Pin It

11 October 2016

Kisah Sukses Anak Pinggiran Jadi Guru Coding

Infokami.Net - Masih akan mengulas kisah sukses, malam ini kami mengupas Kisah Anak Pinggiran Jadi Guru Coding. Perubahan teknologi informasi mengubah cara orang-orang berkomunikasi dan mendistribusikan informasi, turut pula mengubah struktur sosial ekonomi masyarakat. Masyarakat cenderung semakin terpolarisasi dan secara umum terbagi, dengan kelompok yang punya akses pada teknologi dan kaum yang cenderung terpinggirkan dari gegap gempita penggunaan teknologi.


Di antara sebagian kelompok masyarakat yang terpinggirkan itu ada Muhamad Syahrul Ramadan (16) dan Fadhilah Fajar (15), dua orang bocah dari Bekasi yang bersekolah di SMP Terbuka Ilalang. Fajar anak ke-3 dari empat bersaudara. Adapun Sahrul merupakan sulung dari tiga bersaudara. Orangtua kedua bocah itu memiliki mata pencaharian sebagai pekerja lepas dengan penghasilan tak menentu.

Irna, pengajar dan pengasuh kedua bocah tersebut di SMP Terbuka Ilalang bercerita tentang bagaimana proses panjang mendidik keduanya. Sejumlah kebiasaan, yang relatif jauh dari adaptasi logika ilmiah serta etika, perlahan-lahan mulai diubah.

Salah satu cara yang dibiasakan Irna adalah dengan meminta mereka untuk membuat kutipan-kutipan kalimat dengan nuansa dan semangat positif. Kutipan-kutipan kalimat itu lalu diunggah ke akun media sosial masing-masing, sebagai sebuah cara berkomunikasi masyarakat informasi yang tak bisa terelakkan.

Tanggal 5 Desember 2015, bersama Irna, keduanya turut dalam pelatihan membuat game dengan bahasa pemrograman (coding) yang dilakukan sembari bermain game.

Pelatihan di Gedung Harian Kompas dalam bingkai kegiatan Hour of Code serta dilangsungkan pula di sejumlah negara, yang diikuti pengurus sejumlah komunitas itu membuat Fajar dan Sahrul menemukan hasrat hidup mereka.

Belakangan, keduanya memperoleh beasiswa untuk belajar lebih lanjut tentang dunia pemrograman komputer guna membuat “game” dari Clevio Coder Camp. Setelah usai masa belajar lewat fasilitas beasiswa tersebut, keduanya mulai mengajari kawan-kawan mereka di sejumlah sekolah.

“Kami memang sudah dibiasakan menjadi tutor sebaya untuk sharing ilmu,” kata Sahrul, Sabtu (8/10/2016) tentang keputusannya untuk mengajari rekan-rekannya.

Hari itu Sahrul dan Fajar datang untuk menjadi tutor dalam pelatihan membuat game dengan cara bermain game yang diadakan di Gedung Harian Kompas dengan sejumlah instruktur dari lembaga Clevio Coder Camp.

Pengalaman pertama mereka mengajar rekan-rekan sendiri terjadi sekitar satu bulan setelah masa belajar dengan beasiswa itu usai. Mereka mengajar murid-murid di SMP Terbuka Ilalang.

Sekarang, keduanya sudah punya jadwal mengajar secara tetap. Setidaknya sepekan tiga kali di sekolah dan empat kali dalam satu minggu di rumah baca. Itu belum termasuk permintaan mengajar di sejumlah sekolah lain, seperti yang akan segera mereka jalani pada salah satu sekolah di wilayah Serpong, Banten.

Selain itu beberapa mata pelajaran tertentu untuk membantu murid-murid dalam memahami ilmu pengetahuan. Game dengan konten mata pelajaran tersebut biasanya dikemas dalam bentuk kuis. Selama proses sebagai pengajar coding untuk rekan-rekan sebayanya itu, Sahrul dan Fajar menemui sejumlah hal mengesankan.

Fajar dan Sahrul kemudian fokus untuk mengajari murid tersebut, dengan muatan pengajaran lebih mutakhir. “Kita senang mengajar,” imbuh Fajar dan Sahrul.

Selain mengajari rekan-rekan mereka untuk membuat game edukatif yang membantu murid-murid sekolah memahami beragam ilmu pengetahuan, Sahrul dan Fajar menyebutkan bahwa kehidupan mereka dan bagaimana mereka memandang segala hal dalam kehidupan, pada saat ini relatif berubah.

Mereka lebih cenderung untuk melakukan analisis secara kritis dan mencari hubungan sebab akibat yang logis atas nyaris segala sesuatunya, alih-alih menanggapi secara emosional apapun yang dilihat atau dialami.

“Sekarang ini saya selalu berpikir untuk menyusun script (bahasa pemrograman komputer untuk menentukan tindakan berdasarkan sebab akibat, keniscayaan konsekuensi). Mulai sejak bangun pagi, apapun yang saya lihat, misalnya mobil, saya berpikir bagaimana script-nya,” sebut Sahrul.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email