Pin It

19 July 2016

Wiskha, Anak Pemulung Cerdas Calon Dokter Dari Kampus UGM

Kali ini kami akan Berbagi Info inspiratif dari Wiskha, seorang anak pemulung calon dokter dari universitas Gajah Mada Yogyakarta. Gagal masuk pendidikan dokter melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016 tak membuat Muhammad Wiskha Al Hafiidh Suskalanggeng patah semangat. Terbukti, dengan usahanya giat belajar, peraih nilai tertinggi di SMA 1 Sleman ini berhasil tembus pendidikan dokter Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016.


Siapa sangka, siswa cerdas ini ternyata anak seorang pemulung. Ayahnya, Permana Suskalanggeng telah menjadi pemulung sejak delapan tahun silam. Setiap hari, pria yang akrab disapa Sus itu berkeliling untuk mencari rongsokan dari satu desa ke desa lain dengan motor tua miliknya. Tak jarang, pria paruh baya ini memungut sampat yang ia temukan di jalan.

"Waktu tidak diterima SNMPTN, kemudian saya belajar giat lagi supaya dapat lolos di tes SBMPTN. Alhamdulillah, lewat jalur ini akhirnya saya diterima di pendidikan dokter UGM," ujar Wiskha yang kami kutip dari laman UGM, Jumat (15/7/2016).

Sebagai anak yang lahir dari keluarga pas-pasan, awalnya Wiskha sempat ragu untuk melanjutkan studi di pendidikan dokter. Apalagi, prodi tersebut memiliki passing grade yang tinggi dan banyak peminat. Melihat keraguan anaknya itu, sang ibu, Dwi Asih Prihati terus memberikan semangat dan motivasi kepada Wiskha.

"Awalnya ia sempat ragu, tapi saya terus meyakinkannya bahwa ia mampu masuk pendidikan dokter," ucap Dwi. Meski berpenghasilan pas-pasan, Sus tetap mengupayakan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Bagaimana tidak, penghasilan rata-rata yang diperolehnya hanya Rp900 ribu per bulan.

Beruntung, anak-anaknya tergolong rajin dan berprestasi. Selama sekolah mereka dapat bersekolah gratis karena ada dana bantuan operasioanal sekolah (BOS). Kini, Wiskha sendiri tengah berusaha untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi agar dibebaskan dari biaya perkuliahan. Cowok yang langganan jadi juara kelas sejak SD hingga SMA itu menyadari jika pendapatan ayahnya tidak mampu menanggung biaya kuliah kedokteran. Ayahnya bahkan tidak memiliki tempat tinggal, sehingga selama ini keluarganya hanya menempati rumah milik saudaranya yang kini merantau di Kalimantan.

"Saya sedang mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk persyaratan beasiswa bidikmisi. Semoga saya dapat diterima sehingga meringankan beban orangtua," sebut peraih juara 2 Olimpiade Fisika se-Jawa Bali 2015 itu.

Whiska menceritakan, salah satu motivasinya ingin menjadi dokter lantaran selama ini adiknya harus melakukan pengobatan jangka panjang terkait sakit pada saraf perut yang diderita. Sedangkan sang ibu berharap, kelak ilmu yang didapat Whiska dapat berguna untuk orang banyak. Hal serupa juga diungkapkan oleh Sus, ayahnya.

"Bagi saya yang terpenting dapat berguna bagi orang banyak, itu saja sudah cukup," tambah Sus.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email