Pin It

29 April 2016

RA Kartini Sang Pelopor Kejayaan Industri Seni Ukir Jepara

Siapa sangka dibalik kejayaan industri ukir Jepara, sosok RA Kartini memiliki andil yang besar. Pada masanya, seni ukir hanya sebatas kerajinan tangan dan belum dikomersialkan. Kondisi ini mendorong RA Kartini untuk meningkatkan kesejahteraan para perajin ukiran. Oleh karena itu, saat usianya baru 16 tahun, RA Kartini bersama adiknya, Rukmini dan Kardinah, mengirimkan beberapa karyanya dalam Pameran Nasional Karya Wanita atau Nationale Tentoonstelling voor Vrouwnarbeid yang diselenggarakan di Den Haag tahun 1898.


Kartini mengirimkan karyanya seperti dua buah lukisan pemandangan alam dengan bingkai kayu ukiran, hiasan dinding bunga tulip, lukisan kaca, hingga enam buah bambu berukir. Karya seni Kartini dan adik-adiknya ini mendapat perhatian khusus dari Ratu Wilhelmina dan Ibu Suri Ratu Emma. Tak hanya itu, kerajinan yang dibuat Kartini dan adik-adiknya ditulis di beberapa surat kabar yang terbit di Belanda.

Keberhasilan RA Kartini inilah yang mendorongnya untuk membantu para perajin ukir di Jepara untuk meningkatkan penghasilannya. Di antara banyak desa yang ada perajin ukirnya, RA Kartini memilih perajin yang berada di daerah Belakang Gunung. Kartini beralasan, daerah tersebut dipilih karena Belakang Gunung memiliki banyak perajin dengan karya yang indah, namun masih terbenam dalam kemiskinan. Penghasilan yang rendah itu dikarenakan para perajin menjual karyanya dengan harga yang sangat murah.

Akhirnya, dengan dukungan ayah dan saudaranya, Kartini memanggil beberapa perajin dari dukuh Belakang Gunung di bawah bimbingan Singowiryo. Semula, mereka hanya berjumlah 12 orang. Namun ketika jumlah pesanan makin banyak, perajin di bengkel Kartini mencapai 50 orang.

Para perajin membuat barang-barang seperti peti rokok, tempat jahitan, meja kecil, dan produk lainnya. Setelah jadi, barang-barang ini dijual Kartini ke Batavia dan Semarang dengan harga yang cukup tinggi. Hasil penjualan itu, setelah dipotong biaya pengiriman dan bahan baku, diberikan kepada para perajin.

Usaha ini terus berkembang terlebih Kartini juga mengirimkannya lepada teman-temannya di Belanda. Seiring waktu, para perajin di bengkel Kartini mulai kebanjiran persanan. Yang khas, Kartini juga membuat desain ukir yang digemari masyarakat, yakni Lunglungan Bunga. Motif ciptaan Kartini ini kemudian menjadi salah satu motif khas asli Jepara.

Sepak terjang Kartini dalam mempromosikan karya-karya ukirnya kemudian mendorong Oost en West untuk bermitra dengan Kartini. Oost en West adalah lembaga dagang yang dipimpin Ny, N. Van Zuyl en Tromp di Den Haag. Oost en West membuka cabang di Batavia untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan masyarakat.

Jalan Panjang Seni Ukir Dari Mesopotamia ke Jepara

Kebudayaan, menurut budayawan Koentjaraningrat terbagi ke dalam tujuh unsur. Satu di antaranya merupakan kesenian, yang kerap menjadi manifestasi wujud kebudayaan itu sendiri. Kesenian sendiri memiliki banyak bentuk dan ragam. Satu yang telah diwariskan sejak peradaban Mesopotamia adalah kepandaian membuat kerajinan dan perkakas dari perunggu. Pada gilirannya, seni ukir berkembang masuk ke Nusantara seiring dengan masuknya peradaban Hindu.

Bukti dari ukiran bernafas Islam itu bisa ditemukan di Masjid Mantingan dan Makam Ratu Kalinyamat di Jepara. Berbagai motif hiasan ukir di tempat tersebut menjadi bukti bahwa Jepara telah menjadi pusat perkembangan ukir-ukiran pada masanya. Sebagai contoh, di Masjid Mantingan, hingga hari ini pengunjung masih bisa melihat ornamen khas masjid tersebut. Reliefnya menggambarkan bujur sangkar, persegi panjang, dengan kedua sisi berbentuk garis kurawal yang berjumlah 114 buah.


Sesuai dengan budaya Islam, motif hiasan yang digunakan berupa teratai dan hewan yang telah di-stilir. Konon, ornamen Mantingan dibuat oleh Patih Chi Hui Gwan atau Patih Sungging Badar Duwung yang berasal dari Tiongkok. Sementara itu Makam Mantingan terletak di belakang masjid. Letaknya membujur ke belakang, terbagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan strata sosialnya. Makam-makam yang memiliki pintu gerbang biasanya merupakan tokoh-tokoh penting seperti Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadlirin.

(Disarikan dari Hadi Priyatno, Mozaik Seni Ukir Jepara, 2013)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email