Pin It

18 April 2016

Perbedaan Jenis Bunga Floating Dan Bunga Fixed Pada Kredit Bank Atau Leasing

Kali ini kami akan Berbagi Info mengenai bunga kredit bank atau leasing berdasarkan jenisnya. Ada dua jenis bunga berdasarkan sifat perhitungannya yaitu bunga floating atau mengambang dan dan bunga fixed atau tetap.


1. Bunga floating Atau Mengambang

Kredit dengan Bunga floating Atau Mengambang maka Bank bakal langsung menyesuaikan besaran bunga sesuai mekanisme pasar. Sesuai dengan istilahnya, mengambang (floating), maka penerapan bunganya mengikuti dinamika naik turun suku bunga pasar.

Bila suku bunga di pasaran turun maka bunga kredit ikutan turun. Sebaliknya, bila suku bunga pasar naik maka bunga kredit bakal mengikutinya.

Sistem bunga ini seringkali diterapkan untuk kredit pemilikan rumah (KPR), modal kerja, usaha, maupun kredit jangka panjang lainnya. Misalnya promosi suku bunga hanya 7% fixed dua tahun lalu tahun ketiga berdasarkan suku bunga pasar. Contoh kasus saja jika asumsi tingkat suku bunga sebagai berikut:

Suku bunga bulan 1-4 14%
Suku bunga bulan 5-8 16%

Dengan menggunakan floating rate, pokok pinjaman tetap sama. Yang beda adalah perhitungan suku bunganya sebagai berikut:

Pokok pinjaman: Rp 24.000.000
Jangka waktu kredit: 24 bulan

Bulan 1
Bunga = 14% X Rp 24.000.000/12 X 1 = Rp 280.000
Pokok pinjaman = Rp 24.000.000/24 = Rp 1.000.000
Angsuran bulan 1 = Rp 1.000.000 + Rp 280.000 = Rp 1.280.000

Bulan 5
Bunga = 16% X Rp 24.000.000/12 X1 = Rp 320.000

Angsuran bulan 5 = Rp 1.000.000 + Rp 320.000 = Rp 1.320.000
Begitu seterusnya di mana besaran angsuran tergantung dari naik turun suku bunga.

2. Bunga Fixed Atau Tetap

Pada bunga kredit jenis fixed ini bonusnya kalau suku bunga pasaran naik, enggak bakal ngaruh pada kredit kita. Kredit yang menerapkan jenis bunga tetap (fixed) ini menandakan selama masa kredit maka besaran bunga yang diterapkan tak akan berubah. Biasanya disebutkan dengan jelas dalam perjanjian kredit di mana besarnya bunga yang harus dibayar selama jangka waktu tertentu selalu sama.

Dengan demikian, bila saat perjanjian kredit yang disepakati bersama menyebutkan suku bunga yang ditetapkan adalah 14%, maka sampai masa kredit berakhir besaran bunga yang dikenakan selalu 14%.

Kelebihan dari pengenaan suku bunga ini adalah kalau suku bunga pasaran mengalami kenaikan. Meski ada perubahan suku bunga pasar, tapi hal itu tak mempengaruhi besaran bunga kredit yang sedang dijalani.

Tapi ada kerugiannya di mana kalau suku bunga pasaran turun yang bahkan besarannya sampai drastis. Kondisi ini membuat nasabah menderita kerugian karena suku bunga yang dibebankan terbilang besar dari yang ada di pasaran.

Contoh cara menghitung suku bunga tetap dihitung dengan menggunakan sisa pokok pinjaman (sliding rate)
Pokok pinjaman: Rp 24.000.000
Bunga: 14 %/tahun
Jangka waktu kredit: 24 bulan

Bulan 1
Bunga = 14% X Rp 24.000.000/12 X 1 = Rp 280.000
Pokok pinjaman = Rp 24.000.000/24 = Rp 1.000.000
Angsuran bulan 1 = Rp 1.000.000 + Rp 280.000 = Rp 1.280.000

Bulan 2
Sisa pokok pinjaman = Rp 24.000.000 – Rp 1.280.000 = Rp 22.270.000
Bunga = 14% X Rp 22.270.000/12 x 1 = Rp 259.816
Angsuran bulan 2 = Rp 1.000.000 + Rp 259.816 = Rp1.259.816
Begitu terus sampai angsuran habis sesuai tenor kredit.

Ketika sudah tahu cara perhitungannya maka bisa mendapat gambaran kewajiban angsuran yang mesti dipenuhi selama masa kredit. Dengan demikian, metode perhitungan bunga ini menjadi poin yang wajib ditanyakan sejak awal saat pengajuan kredit.

Kalau mau lebih yakin lagi sama perhitungan bunga, tak ada salahnya meminta kepada bank untuk membuatkan simulasi angsuran. Di situ akan terlihat dengan jelas rincian angsuran dari awal sampai lunas.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email