Pin It

28 April 2016

Manfaat Ganja Dalam Pengobatan Tumor Otak

Ganja sebagai tanaman yang paling terkenal sepanjang sejarah manusia, tidak bisa dipungkiri telah mengalami berbagai bentuk pemberitaan yang tidak obyektif dan cenderung negatif. Namun dari sudut pandang kesehatan, Ganja (Cannabis sativa) adalah tanaman yang memiliki sejarah panjang dalam literatur-literatur medis purba dari berbagai kebudayaan dunia.

Tanaman ganja sebenarnya punya banyak manfaat dalam kesehatan dan telah dibuktikan. Selain menghancurkan beberapa sel kanker, tanaman yang punya nama latin Cannabis sativaini ternyata efektif melawan tumor otak. Sebuah studi terbaru yang dilakukan pada tikus menunjukkan, bila dikombinasikan dengan terapi radiasi, ganja secara efektif dapat mengecilkan salah satu jenis tumor yang paling agresif, yaitu tumor otak.


Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Molecular Cancer Therapies, tim peneliti dari St George University of London menguraikan "pengurangan dramatis" yang mereka amati pada glioma massa, bentuk mematikan dari kanker otak, ketika diobati dengan mengombinasi radiasi dan dua senyawa ganja yang dikenal sebagai cannabinoid. Dalam banyak kasus, terbukti tumor menyusut sampai sepersepuluh ukurannya semula. "Cannabinoids dapat berperan dalam mengobati salah satu kanker yang paling agresif pada orang dewasa. Hasilnya menjanjikan," kata Dr. Wai Liu, salah satu peneliti.

Dalam Bidang Kesehatan Ganja Bermanfaat UntuK Melawan Tumor Otak

Penelitian mengenai manfaat ganja dalam pengobatan kanker memang bukan hal baru. Namun, Liu dan timnya adalah yang pertama meneliti efek kombinasi ganja dengan terapi radiasi. "Hasil akhirnya lebih kuat dalam mengecilkan tumor," katanya. Dalam penelitiannya, Liu mengamati tikus yang sebelumnya sudah diinfeksi glioma (tumor otak) lalu diobati dengan dua macam terapi, yakni radiasi saja atau kombinasi antara radiasi dan senyawa ganja.

Senyawa yang dipakai adalah THC, senyawa psikoaktif yang terkait dengan sensasi "high", dan CBD, yang tidak menghasilkan efek samping psikoaktif. Mereka menemukan bahwa pengobatan tumor yang terbaik adalah memakai dosis rendah, baik THC dan CBD bila digunakan secara bersama, membuat tumor lebih mudah merespon radiasi.

Penggunaan dua senyawa itu dalam dosis rendah ternyata juga menghasilkan efek yang sama jika memakai salah satu komponen dalam dosis tinggi. Ini penting karena dengan demikian efek samping yang dialami pasien juga lebih sedikit.

THC dan CBD merupakan dua dari puluhan senyawa kimia yang ditemukan dalam tanaman ganja. Tim ilmuwan dari Inggris tahun lalu menemukan bahwa kombinasi dari enam cannabinoids murni yang berbeda dapat membunuh sel-sel kanker leukemia.

Sementara itu, THC saja telah terbukti mengurangi ukuran tumor kanker dan menghentikan penyebaran HIV. CBD juga memiliki efek positif pada anak-anak dan orang dewasa yang menderita gangguan kejang yang berat.

Walau begitu, di banyak negara ganja masih tergolong dalam obat-obatan terlarang. Walau ada beberapa negara yang melegalkan ganja untuk tujuan pengobatan, tapi para ahli berpendapat kurangnya dukungan pemerintah terhadap pemakaian ganja di bidang kesehatan membuat manfaat tanaman ini kurang dipahami secara baik.

Manfaat Ganja Dalam Dunia Medis

Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride, tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension.

Bangsa Arab merupakan bangsa yang memiliki kumpulan pengetahuan medis tentang ganja dengan jumlah paling banyak dibandingkan bangsa-bangsa yang lain sebelum abad ke-20. Catatan pertama manfaat medis ganja dalam literatur Arab muncul dari tulisan dokter bernama Ibn-Masawayh (857 M) yang menyebutkan kegunaannya sebagai obat sakit telinga. Pada abad ke-10, bapak kedokteran Arab, Ibnu Sinna atau yang lebih terkenal di dunia dengan Avicenna juga mencatat manfaat ganja untuk mengeluarkan gas dari perut.

Menurut Sabur ibn Sahl dalam kitab Al-Aqrabadhin Al-Saghir (abad ke-9) ganja menghilangkan rasa sakit kronis, sakit kepala, migrain, mencegah keguguran, gagal melahirkan, mengurangi sakit pada rahim & menjaga bayi tetap pada abdomen ibunya. Kemudian menurut Ibn Wafid al-Lajmi (abad ke-11) biji ganja menambah produksi air susu ibu & menyembuhkan sakit amenorrhea.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email