Pin It

09 February 2016

Bila Keikhlasan Diganti Uang

Sistem kapitalisme mendasarkan pada satu hal yaitu reward system. Dulu masyarakat Indonesia itu sejahtera karena masyarakat mendasarkan pada keikhlasan. Yang butuh kelapa minta tetangga, yang mau bakar ayam tinggal dipotong. Kangkung tinggal potong. Masyarakat mencukupi hidupnya dari desa.

Tapi sejak kolonialis Barat masuk Indonesia, maka dimulai jaman kapitalisme. Pertama mereka mengenalkan harga. Dulu harga cengkeh, pala, ditetapkan setara harga emas. Dijualnya di Pusat Selat Malaka. Sejak itu berbondong-bondong orang menguasai kapital di Pusat Selat Malaka, Batavia.

Orang yang punya kambing, domba, ayam semuanya lewat kalah dengan yang dagang merica, pala, cengkeh, tembakau, tebu. Sejak itu timbulah reward system, di mana semuanya mengejar reward. Yang tadinya ikhlas semuanya rontok mengejar kapital. Mengejar uang.


Jadi sejak itu masyarakat sampai sekarang dijajah oleh kapital. Yang tidak punya kapital dikejar debt collector. Seperti kisah jaman Romawi, yang punya kapital (agunan) dia seperti pemilik rumah gladiator. Semuanya mendambakan gladiator (agunan). Nah gladiator harganya naik selangit seperti cengkeh, pala setara emas.

Yang bisa menyelesaikan permainan gladiator kapitalisme ini hanyalah jalan keikhlasan. Itu seperti anda diberi satu kebijakan mengenali permainan gladiator, mengerti kehendak orang lain. Jadi saat semuanya mengejar reward, Anda mengendalikan reward-reward itu.

Sepanjang hidup kita berjuang dan sulit menemukan jawaban. Ada satu orang yang menyesali hidupnya, dulu sewaktu kecil keluarganya miskin, setiap kali mau makan harus berutang pada tetangga.

Dia merasakan penderitaan itu sampai dewasa sehingga langkah pertama adalah bagaimana bisa keluar dari lingkaran kemiskinan?
Mungkin dengan bersaing berkompetisi dengan orang lain, tapi kok sulit. Mungkin dengan berontak melawan orang (kaya) tetap sulit. Mungkin dengan meminta tolong orang (kaya) tetap sulit.

Hukum perdagangan adalah adanya kebutuhan dan melayani kebutuhan orang lain. Orang (kaya) butuh apa? Orang (miskin atau kaya) sama-sama terjerat oleh ego. Bila ego anda setara kambing, ego orang (kaya) setara gajah dan kuda nil. Semakin ruwet bagi orang (kaya).

Oleh karena itu, mudah bagi orang (miskin) meninggalkan egonya dan mulai berikutnya berpikir, bagaimana caranya meninggalkan ego orang (kaya) sehingga bisa mulai terjadi pertukaran kebutuhan.

Penulis:
Goenardjoadi Goenawan

Konsultan dan motivator tentang paradigma baru tentang uang. Penulis 10 buku manajemen, termasuk "Rahasia Kaya, Jangan Cintai Uang", "Money Intelligent: Rahasia Kaya, Mulai Berbisnis" yang baru terbit.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email