Pin It

19 December 2015

Panser Badak, Alutsista TNI Buatan PT Pindad Indonesia

Setelah terpukul badai krisis moneter pada medio 1997-1998 lalu, perekonomian Indonesia perlahan membaik dan berhasil menjadi anggota G-20 yang beranggotakan negara-negara dengan ekonomi kuat di dunia. Bersamaan dengan itu, pelbagai sektor industri juga mampu meningkatkan produksinya sekaligus memiliki daya saing internasional. Aksi embargo yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya membuat Indonesia berupaya keras memajukan industri pertahanan yang sempat mati suri. PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad pun diberdayakan untuk membangun alat utama sistem senjata (alutsista), dan dikelola secara profesional.

Kini, industri pertahanan dalam negeri tak hanya mampu merakit saja, tapi juga membuat sendiri sejumlah alutsista penting buat dipasok dan digunakan TNI. Bahkan, alutsista buatan mereka juga dilirik berbagai negara di seluruh belahan dunia. Seperti senapan serbu SS-2 yang menunjukkan kelasnya di kejuaraan menembak internasional di Australia dan membuat TNI menjadi juara, kemudian senapan SPR-2 yang diklaim mampu menembus baja. PT Pindad kini juga tengah meracik kendaraan tempur (ranpur) baru yang bisa digunakan di medan perang, yakni Panser Badak.

Berdasarkan spesifikasi yang dimiliki, panser ini dibuat khusus untuk pertempuran, beda dengan Panser Anoa yang memang dibuat untuk mengangkut pasukan. Atas alasan itu, panser ini dipasangi sistem persenjataan jenis canon berdiameter 90 milimeter. Panser ini berdaya muat tiga orang kru, termasuk sopir. Sesuai namanya, panser ini dipakai untuk bertahan maupun penyerangan.

Kadep komunikasi Pindad Sena Maulana menyatakan panser badak lebih unggul dari panser tarantula buatan Korea Selatan. Ada dua keunggulan yang dimiliki panser buatan anak bangsa ini, yakni manuver dan harga yang jauh lebih murah. "Panser Tarantula dari Korea Selatan sama-sama 90 militer (canon), tapi badak lebih unggul. Kelebihannya pada manuvernya yang lebih tinggi. Harganya sesuai dengan budget TNI dan bentuknya sesuai dengan karakteristik Asia. Harganya di bawah Tarantula," kata dia.

Panser ini memiliki berat hingga 14 ton dan untuk mendukung laku kendaraan didukung dengan mesin diesel dari Renault, yaitu Diesel Inline 6 silinder Tubo Charger Intercooler berkapasitas 10.800 cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 340 horsepower.

Meski berbadan besar dan dilengkapi persenjataan berat, panser ini mampu mencapai kecepatan puncak hingga 90 kilometer per jam. Tak hanya memiliki kecepatan puncak yang cukup cepat, Badak diakui memiliki kemampuan manuver yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Panser Tarantula buatan Korea Selatan.

Sistem transmisi dari Badak sendiri menggunakan transmisi otomatis 6-percepatan. Memiliki dimensi panjang 6 meter, lebar 2.5 meter dan tinggi 2,9 meter, Badak Pindad memiliki kemampuan jelajah yang cukup luas sekitar 600 kilometer.

Untuk urusan kenyamanan dan kemampuan menghadapi medan yang ekstrem, PT Pindad menyematkan Independent Double Wisbone tanpa Spring ke Badak. Hal ini ditunjang dengan ban Runflat 1100-R22,5 yang mampu berjalan dalam keadaan tanpa angin hingga sejauh 80 kilometer pada kecepatan tertentu.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email