Pin It

25 December 2015

Asal Usul Darah Biru dan Manusia Unggul

Anda tentu tahu istilah darah biru. Di zaman feodal dan mungkin masih ada di zaman sekarang, istilah ini ditujukan untuk mereka yang masuk dalam kelompok para bangsawan, priyayi atau mereka yang bergolongan ekonomi atas. Dalam banyak budaya terutama Jawa, pewaris darah biru ini biasanya akan berusaha mendapatkan pasangan yang juga berasal dari kalangan darah biru. Dengan demikian mereka akan bisa menurunkan generasi darah biru yang berkualitas. Inilah yang disebut dengan mengukir darah biru.


Konsep mengukir darah biru ini biasanya hanya diketahui oleh kalangan tertentu dan bersifat rahasia. Konsep spiritual leluhur Jawa ini dikenal dengan istilahha ngukir trahing kusuma/trahing aluhur yang artinya mengukir keturunan orang bangsawan/kaum yang tinggi derajatnya.

Menurut Budiono Herusatoto penulis buku Seks Para Leluhur, istilah ini menunjukkan sikap eksklusif dan konsep yang dirahasiakan, hanya patut diketahui oleh orang terpilih di seputar raja.

Sifat pemilih ini menunjukkan adanya pembedaan derajat atau trah/garis keturunan. Kata trah berasal dari katarah (Jawa) yang artinya darah, menjadi gotrah (keluarga, sanak saudara sedarah) dan trah dengan arti garis keturunan.

Konsep ini berlaku umum dengan anggapan bahwa 'raja sebagai keturunan dewa' harus dijaga dan dipertahankan kemurnian darahnya agar tidak tercemar oleh darah keturunan non dewa (rakyat biasa).

Anggapan seperti ini sebenarnya dimaksudkan untuk mempertahankan kehormatan dan politik (kekuasaan) kunci pemerintahan. Eksklusivisme itu akhirnya menumbuhkan rasa dan sikap kesombongan. Hingga istilah ini akhirnya mengandung konotasi keluhuran martabat yang berbeda dengan rakyat biasa.

Kaum bangsawan adalah berwarna biru simbol keluhuran sebagaimana warna langit biru yang berbeda dengan darah rakyat biasa 'sudra papa' yang tetap berwarna merah. Dari sinilah kemudian istilah darah biru dikenal.

Dalam pandangan mereka yang berdarah biru, salah satu hal yang paling berarti adalah mendapatkan keturunan. Karena itu selain mendapatkan pasangan yang sama-sama dari darah biru. Cara memperoleh anaknya pun harus disiapkan dengan sebaik-baiknya agar kemurnian darah biru tetap terjaga. Sehingga kualitas watak si anak juga menunjukkan bahwa dia dari golongan darah biru.

Dan parahnya idiom ini diterapkan pula untuk memberi sebutan bagi para pendeta (pandhita), kaum kiai masjid keraton sebagai kaum suci dengan darah putih. Mereka ini dianggap sebagai kaum suci, tak berdosa. Berkat laku yang dijalankannya memeroleh peringkat iman dan takwa yang unggul sehingga mereka juga disebut kaum putihan.

Pernyataan kaum bangsawan sebagai pemilik tunggal 'darah biru' hanyalah pernyataan politik untuk menguatkan posisi.

Sudah saatnya situasi dikembalikan sesuai kenyataan yang sesungguhnya karena pengertian 'darah biru' sebenarnya adalah 'kualitas manusia unggul' (berbudi pekerti, jujur, toleran, pekerja keras, murah hati, rendah hati, bersahaja, dan masih banyak sifat lain yang bisa disebut) yang berlaku untuk siapa saja, tanpa pandangan bulu, semua orang yang berkemampuan tinggi melebihi kemampuan manusia lain yang dalam bahasa Jawa disebut memiliki rah adi (darah yang indah).

Dalam sejarah Indonesia, banyak pemimpin yang berasal dari rakyat jelata. Sebut saja Jenderal Soedirman, Presiden Soekarno, Soeharto, KH. Abdurrahman Wahid dan sekarang Joko Widodo. Tentu masih banyak tokoh yang bisa disebut.

Tentu saja, tak hanya rakyat jelata yang bisa jadi pemimpin, warga biasa dengan kualitas manusiawi yang unggul pun banyak kita temui sekarang ini.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email